PDA

View Full Version : Sri Krishna dan Yesus Kristus



Literary
12-12-2009, 12:31 AM
Sperti yg sering kita dengar, Tuhan itu Maha mengetahui. Tp kenapa injil mengajarkan bumi ini datar, sampai2 Galileo Galilei disiksa oleh gerejawan gara2 menyatakan bumi ini bulat.
Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya
Yohanes 16.12

Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal surgawi?
Yohanes 3.12

Sekarang Aku akan menjelaskan kepadamu pengetahuan ini secara lengkap, baik yang bersifat material maupun spiritual. Sekali hal ini diketahui, tidak ada hal lain lebih lanjut untuk diketahui.
BG 7.2


Jelas, Yesus tidak memiliki pengetahuan sama sekali maka di sisi lain ia segera mengatakan hanya bapa yang mengetahui. Berbeda dengan Sri Krsna...

Literary
12-12-2009, 12:34 AM
Indonesian only...

Literary
12-12-2009, 12:40 AM
Seorang Paus pada Kedatangan Milenium Ketiga berkata: “Sinode Asia akan berhubungan dengan tantangan untuk evangelisasi (konversi, pen) diakibatkan oleh perjumpaan dengan agama-agama kuno seperti Budha dan Hindu. Selagi mengemukakan penghargaan untuk elemen-elemen kebenaran pada agama-agama ini gereja harus membuat jelas bahwa Kristus adalah satu-satunya perantara antara Tuhan dan manusia dan satu-satunya pembebas dunia”.

Pangeran Hermann Keyserling mengatakan: “Kaum Kristen (orthodok) dalam keangkuhannya, yang mempercayai bahwa dogma agamanya sendiri mewujudkan keselamatan dan ingin menarik masuk, setiap orang yang berbeda agama dan dalam pada itu ia menghina mereka. Saya tidak pernah menjumpai seorang Hindu yang tidak mempunyai kemutlakan dari beberapa bentuk ajaran, namun di sisi lain saya tidak menjumpai (orang Hindu) yang ingin mengubah agama seseorang (lain) dan menghina seseorang (lain itu) disebut sebagai ketahayulan”.

Literary
12-12-2009, 12:45 AM
Oleh: David Frawley

Dengan dalih toleransi beragama ide persamaan-persamaan agama ini digunakan untuk mencegah pengkritisan terhadap dogma-dogma agama, khususnya kristen dan islam. Penganut Hindu diajak menerima alkitab dan alquran adalah kebenaran seperti Bhagavad Gita, misalnya, bahkan tanpa mencari tahu apa yang kitab-kitab ini katakan. Bilamana umat Hindu melihat agama-agama lain dengan kritis, bagaimanapun cerdas, santun dan objektifnya pandangan mereka, mereka disebut komunal. Daripada menyatukan semua kelompok agama, prinsip persamaan agama ini meneguhkan keberadaan agama-agama sebagaimana adanya. Agama-agama agresif diijinkan untuk terus menjadi agresif. Agama-agama yang pasif diharapkan tidak mencoba mempertahankan dirinya. Setiap agama diberi perlindungan terhadap apa yang mereka lakukan dalam sejarah, dan agama-agama diberikan kebebasan untuk bertindak tanpa pertanyaan di bawah selubung kepercayaan.

Demikian adalah bahasa terjemahan, agar lebih mudah dimengerti saya coba menjelaskannya sedikit.

Dengan alasan toleransi, semua agama dibilang sama. Jika semua agama dikatakan sama, kita tidak akan lagi kritis terhadap agama lain. Akibatnya, ini membuat para misionaris dan pendakwah menjadi mudah merubah agama umat Hindu. Seandainya umat Hindu telah masuk agama tersebut, jika mantan Hindu itu mulai kritis, sang pendakwah dan misionaris hanya akan menjawab “hanya Tuhan yang tahu” atau “kamu meragukan agamamu (kristen dan islam)”. Mereka pasti melarang mantan Hindu bersikap kritis terhadap agama tersebut karena mereka takut jika mereka tidak mampu menjawab, agama tersebut akan ditinggalkan. Prinsip mereka sangat berbeda dengan yang diajarkan dalam Hindu. Bhagavad Gita 4.34:
tad viddhi pranipatena
pariprasnena sevaya
upadeksyanti te jnanam
jnaninas tattva darsninah
(Cobalah mempelajari kebenaran dengan cara mendekati seorang guru kerohanian. Bertanya kepada beliau dengan tunduk hati dan mengabdikan diri kepada beliau. Orang yang sudah insaf akan dirinya dapat memberikan pengetahuan kepadamu karena mereka sudah melihat kebenaran itu)
Betapa Bhagavad Gita menekankan kepada kita untuk terus selalu bertanya dan bertanya untuk mencari kebenaran. Sangat bertentangan’kan? Sebagai umat Hindu, semakin kita kritis terhadap agama Hindu semakin pula sradha dan bhakti kita meningkat. Sebagai umat nasrani atau muslim, semakin mereka mempertanyakan agama mereka semakin pula mereka ingin meninggalkan agama tersebut (Stephen Knapp dan Steven Rossen sebagai contoh, nasrani kelahiran Amerika, semakin mereka mendalami agama kristen, semakin pula mereka ingin meninggalkan agamanya. Dan kini mereka telah menjadi umat Hindu sejati). Nah, kalau kita sudah terlanjur menerima semua agama itu sama, kita pasti akan mengatakan alkitab, alquran, Veda itu sama-sana merupakan kebenaran. Padahal jelas-jelas penuh perbedaan. Ambil contoh, alkitab dan alquran menyatakan bumi ini datar, dahulu kala para ilmuwan yang menyatakan bumi ini bulat, mereka disiksa oleh aparat gereja hanya karena penemuannya bertentangan dengan injil. Sungguh ironis.
Mengapa orang Barat lebih mengkhawatirkan umat Hindu dibanding kita yang murni umat Hindu sejak lahir terhadap agama kita sendiri?

Literary
12-12-2009, 12:47 AM
Oleh: Yajnavalkya Dasa

Apakah anda menerima Jesus Kristus sebagai putra Tuhan?
Tentu saya percaya. Disebutkan dalam Bhagavad Gita 14.4 bahwa Tuhan adalah Bapa bagi semua... bahkan untuk serangga dan tumbuh-tumbuhan, sebagaimana juga untuk manusia. Oleh karena kita semua adalah anak-anakNya, yang, tentu saja, termasuk Jesus.

Tetapi apakah anda menerima Jesus sebagai satu-satunya anak yang dilahirkan Tuhan?
Apakah Tuhan demikian terbatas sehingga Dia hanya mampu melahirkan satu anak? Dalam Bhagavata Purana 10.90.34, dikatakan kita hanya sebagian daftar dari anak-anak lain yang dilahirkan Tuhan: Pradyumna, Aniruddha, Diptiman, Bhanu, Samba, dan lainnya.

Tetapi Jesus adalah spesial. Dia mati untuk rakyatNya. Apakah Pradyumna mati untuk rakyatnya?
Tidak. Pradyumna dijelaskan seperti Bapanya... Dia adalah sac-cid-ananda-vigraha, yaitu, abadi, penuh pengetahuan atau tercerahkan dan kebahagiaan abadi. Dia tidak mempunyai badan material, dan tidak pernah mati.

Bila Dia tidak pernah mati, lalu di mana Dia?
Kadang-kadang Tuhan memanifestasikan Dirinya sendiri, dan kadang-kadang Dia tidak mewujudkan dirinya (tidak tampak oleh mata kita). Dia seperti matahari... ketika matahari terbenam, apakah Ia mati? Tidak, Ia hanya tidak kelihatan oleh mata material kita. Ia ada dibalik horison, tetapi Ia tetap ada di sana.
Konsep tentang Jesus “mati untuk rakyatnya” adalah suatu kesalahan filsafat (a philosophic fallacy) dikenal sebagai “argumentum ad misericordium”, semuanya “memohon untuk belas kasihan” (appeal to pity). Ini dilakukan ketika seorang memohon kepada orang lain belas kasihan dari pada memberikan bukti untuk mendukung satu kesimpulan. Di samping itu, banyak orang mati untuk rakyat mereka, atau untuk suatu alasan, atau untuk negeri mereka, atau untuk agama mereka. Para serdadu menyerahkan nyawanya untuk rakyat mereka. Apakah ini membuat mereka menjadi seorang penyelamat suci?

Penderitaan dan kematian Jesus di kayu salib sama sekali bukan sebuah “argumen untuk belas kasihan”. Ia adalah sebuah ekspresi dari cinta Tuhan bagi dunia ini.
Dan mengapa Tuhan perlu mengirimkan anakNya pada kematian?

Karena “Tuhan demikian cinta pada dunia ini sehingga Dia memberikan satu-satunya anak yang dilahirkanNya, sehingga siapapun yang percaya padaNya tidak akan musnah, tetapi mempunyai hidup abadi” (Yohanes 3.16)
Itu kedengaran bagus, tetapi tidak menjawab pertanyaan. Tuhan adalah Maha Kuasa. Dia dapat dengan mudah membebaskan setiap orang secara seketika, bila Dia memilih untuk melakukan itu. Dia tidak perlu mengirim anakNya pada kematian.
Lagipula, kematian tidak ada bagi jiwa, jadi tidak ada pertanyaan tentang “kemusnahan” seseorang. Kita telah selalu ada, dan kita akan selalu ada, kata Bhagavad Gita 2.12.
Adalah penting untuk memahami peranan dari inteligensi pikiran dalam pencarian kita atas Tuhan. Gairah emosional dapat menjadi halangan bagi akal sehat dan logika.
Juga, adalah jelas bahwa apa yang dianggap sebagai “keajaiban” dari kebangkitan kembali (resurection) dimaksudkan untuk menanamkan keyakinan di antara orang-orang Kristen. Inilah salah satu dari klaim agama anda. Namun, apa nilai keajaiban dalam menanamkan keyakinan? Bila anda menunjukkan satu keajaiban di dalam agama Kristen, anda katakan itu adalah karya Tuhan. Tetapi bila seseorang menunjukkan satu di dalam agama lain, anda segera mengatakan itu sebagai satu “akal bulus Setan.”

Tetapi hanya agama Kristen mempunyai solusi atas masalah dosa: Adam, manusia pertama, berdosa. Manusia, sampai sekarang, mewariskan dosa ini saat kelahiran. Dalam kata lain, manusia lahir dalam dosa, dan dia ditakdirkan abadi di dalam neraka. Tetapi, hanya dengan mempunyai keyakinan dalam Jesus Kristus, anda dapat diselamatkan. Ini adalah satu ekspresi dari cinta dan kemurahan hati Tuhan yang maha kuasa.
Mengancam seseorang dengan penyiksaan abadi di neraka sama sekali bukan ekpsresi cinta dan pengampunan. Kami orang Hindu percaya bahwa Tuhan adalah satu Tuhan yang adil. Tidak ada seorangpun yang lebih adil daripada Tuhan. Konsep tentang “manusia mewarisi dosa-dosa Adam” ini tidak bicara tentang satu Tuhan yang adil. Bila satu permerintahan menahan dan menghukum warganya untuk kejahatan nenek moyangnya berabad-abad yang lalu, pemerintahan itu akan dicaci maki karena pertunjukkan ketiadaan hukum dan pelanggaran berat atas hak azasi manusia. Namun anda menyatakan ini berasal Tuhan? Bagaimana ini bisa menjadi satu “solusi untuk masalah dosa?”

Tetapi Tuhan membuatnya menjadi mudah untuk bebas. Cukup memilki keyakinan dalam Jesus. Rahmat Jesus tidak perlu diusahakan, dia diberikan secara cuma-cuma. Satu-satunya yang perlu kita lakukan adalah menerimanya. Mereka yang tidak peduli akan musnah untuk selamanya.
Semakin menjadi jelas jurang perbedaan yang sangat lebar antara konsepsi orang Kristen mengenai Tuhan dan persepsi orang Hindu mengenai Tuhan. Kami percaya bahwa Tuhan tidak saja hanya Tuhan dari keadilan, tetapi satu Tuhan yang maha pengampun, maha pengasih, dan cinta. Orang-orang Kristen percaya dengan sebuah neraka abadi dengan penyiksaan yang amat kejam dan menyakitkan. Apa nilai dari penghukuman ini bila di sana tidak ada harapan untuk mengakhirinya? Nilai apa yang terdapat dalam semua ini, bila jiwa tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki jalannya, dan menerapkan pelajaran yang telah dia pelajari? Sebuah konsep mengenai hukuman abadi semacam itu bukan sebuah konsep tentang rehabilitasi, tetapi adalah sebuah konsep tentang pembalasan dendam yang murni dan telanjang. Ini bukanlah perbuatan dari Tuhan cinta, pengampun, dan pengasih. Hidup hanya untuk beberapa tahun yang singkat di planet ini, dan seluruh keabadian tergantung pada waktu yang singkat ini? Dan pertimbangkan keadilan di dunia ini: seorang anak mungkin lahir di dalam sebuah rumah yang menyenangkan di sebuah kota kecil di Amerika. Anak yang lain mungkin lahir di sebuah ghetto kumuh yang penuh kejahatan. Seorang anak dengan jelas telah ditetapkan keadaannya sebelumnya (ditakdirkan), karena lahir dan dibesarkan dalam satu iklim dosa dan kebencian. Apakah keduanya dihakimi secara sama? Dan kriteria apa yang dipergunakan untuk menilai seseorang setelah kematian? Apakah seseorang yang 51% dosa dan 49% saleh dibakar di neraka sebanyak orang yang 99% berdosa? Ada banyak sekali ketidakadilan pada konsep hukuman tiada akhir dan kutukan abadi ini. Dan itukah ciri utama dari satu Tuhan yang adil?

Anda orang Hindu dan Buddha percaya dengan reinkarnasi. Jadi apa nilai dari reinkarnasi bila anda tidak dapat mengingat masa lalu anda? Di sana juga tidak ada rehabilitasi.
Tujuan utama dari reinkarnasi bukanlah untuk penghukuman (sekalipun jiwa yang ditubuhkan tentu saja menerima bagian penderitaan dari keberadaannya yang ditubuhkan). Jiwa berpindah ke badan lain karena semata keinginan dari jiwa itu sendiri. Tuhan sangat baik. Bila kita ingin hidup bersamaNya, yaitu, bila kita sungguh-sungguh ingin hidup bersama Dia, kita akan dibebaskan dari samsara, lingkaran kelahiran dan kematian. Tetapi bila kita ingin tetap di sini di dunia material ini, mencoba untuk mengunyah ampas, mencoba dengan sebaik mungkin untuk memeras setiap tetes dari kenikmatan dunia ini, mencoba membangun sebuah kerajaan Tuhan tanpa Tuhan, maka kita akan diberikan keinginan kita ... badan material yang lain. Tetapi, bahkan ketika kita menerima badan material yang lain kita diberikan kesempatan demi kesempatan untuk memperbaiki jalan kita dan mengejar kepentingan kita yang sesungguhnya memperbarui hubungan kita dengan Tuhan.
Dan setelah ribuan kehidupan, seorang manusia yang bijaksana akan memulai memahami bahwa tidak masalah upaya material apapun yang dia lakukan, hasil-hasilnya akan habis pada waktu kematian. Dia tidak dapat membawa kekayaan itu bersamanya kepada badannya berikutnya. Setelah kelelahan secara material, dia akhirnya mulai kehidupan spiritual. Telah ditulis bahwa seorang dapat menjadi serius mengenai kehidupan spiritual hanya setelah dia frustasi secara material. Jadi bahkan apa yang disebut penderitaan material sesungguhnya dapat menjadi anugrah yang tersembunyi. Ada ucapan Hindu yang mengatakan bahwa “bila Tuhan menyukai anda, Dia akan memberikan segalanya, tetapi bila Dia mencintai anda, Dia akan mengambil segalanya dari anda.” Dalam cara ini, dengan menunjukkan kemurahan hati-Nya yang khusus, manusia akan segera menyadari bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang penting.

Radha Krsna
12-12-2009, 01:49 AM
Jangan sampai mudah terpengaruh...

Logos
12-12-2009, 02:42 AM
Hello Literary -- this is an English-only discussion forum, so, please only post in English.

Radha Krsna
12-12-2009, 09:10 AM
Hello Literary -- this is an English-only discussion forum, so, please only post in English.

Unfortunately...